Opini

Kenapa (bukan) Gandum?

Skenario masuknya gandum ke dalam pasar bahan pangan Indonesia dimulai sejak diberlakukan dan diterimanya program kerjasama ekonomi antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Amerika Serikat dengan nama program PL480 pada tahun 1969. PL 480 adalah kebijakan pemerintah AS untuk memberikan bantuan komoditas pertanian kepada negara-negara berkembang baik melalui tangan negara atau langsung kepada sektor swasta dengan skema yang bermacam-macam, mulai dari bantuan hibah hingga kredit konsesional. Program bantuan PL480 ini pada awalnya juga dikenal sebagai food for peace program (Program Pangan untuk Perdamaian).

Kebijakan Swasembada Pangan di Indonesia

Pada era pemerintahan Soeharto kebutuhan pangan Indonesia diukur dengan ketersediaan beras. Politik pertanian dan revolusi hijau tahun 1960-an merubah pola konsumsi sebagian besar penduduk Indonesia Timur, dari jagung dan sagu ke beras (Simatau, 2001: 35). Tujuannya pola konsumsi penduduk Indonesia menjadi seragam, yaitu konsumsi beras. Beras kemudian menjadi tolak ukur ketercukupan pangan pokok di Indonesia. Sementara konsumsi pangan di Indonesia sesungguhnya sangat beragam, asupan karbohidrat juga bisa sagu, jagung, ubi, dan umbi lainnya.

Berlawan, Melawan, Lawan!

Ada yang saya suka dari motto Serikat Hijau Indonesia (SHI), organisasi massa berbasis pembelaan lingkungan, yaitu “Berlawan”

Soal utang Negara

Arimbi Heroepoetri.,SH.LL.M (Pegiat Hukum, HAM, Masyarakat Adat, Lingkungan dan Perempuan, Peneliti pada debtWATCH Indonesia) Saya mulai melototi Anggaran dan Perbelanjaan Negara (APBN) sejak 20 tahun

Scroll to Top