Tentang Subak

subak

Tentang Subak

Disusun oleh Arimbi Heroepoetri

Agustus, 2020

Subak adalah pengelolaan irigasi persawahan secara komunal yang menjadi perekat komunal dan ketahanan pangan, mengandung nilai-nilai kearifan lokal yang memadukan teknologi dengan ritual keagamaan dan tata sosial masyarakat. Sistem irigasi subak tercatat di Bali sejak tahun 107 di mana peran raja-raja di Bali sangat mempengaruhi perubahan yang terjadi pada sistem irigasi subak.

Latar belakang didirikannya organisasi ini  ribuan tahun yang lalu karena lingkungan topografi dan kondisi sungai-sungai di Bali yang curam. Hal ini menyebabkan sumber air pada suatu komplek persawahan petani umumnya cukup jauh dan terbatas. Untuk dapat menyalurkan air ke sebuah kompleks persawahan, mereka harus membuat terowongan menembus bukit cadas. Kondisi inilah yang menyebabkan para petani Bali menghimpun diri dan membentuk organisasi Subak. Subak dipimpin oleh seorang Kelian Subak atau Pekaseh yang mengoordinasi pengelolaan air berdasarkan tata tertib (awig-awig) yang disusun secara egaliter. Saat irigasi berjalan baik, mereka menikmati kecukupan air bersama-sama. Sebaliknya, pada saat air irigasi sangat kecil, mereka akan mendapat air yang terbatas secara bersama-sama.

Jadwal tanam dilaksanakan secara ketat. Waktu tanam ditetapkan dalam sebuah kurun tertentu. Petani yang melanggar akan dikenakan sanksi. Untuk memperoleh penggunaan air yang optimal dan merata, air yang berlebihan dapat dibuang melalui saluran drainasi yang tersedia pada setiap komplek sawah milik petani.

Konsep Tri Hita Karana

Subak merupakan sistem irigasi yang di dalamnya menyangkut masyarakat adat yang memiliki karakteristik sosio-agraris-religius, dan merupakan perkumpulan petani yang mengelola air irigasi di lahan sawah. Sistem irigasi subak adalah cerminan konsep Tri Hita Karana (THK) yang pada hakikatnya terdiri dari  (Tuhan) Parhyangan, (Orang)  Pawongan, dan (Alam) PalemahanParhyangan ditunjukkan adanya pemujaan terhadap pura pada wilayah subak. Pawongan ditandai dengan adanya organisasi yang mengatur sistem irigasi subak, dan palemahan yang ditandai dengan kepemilikan lahan atau wilayah di setiap subak. Ketiga hal ini memiliki hubungan yang bersifat timbal balik.

Pengejawantahan Parhyangan dengan selalu memiliki pura yang dinamakan Pura Uluncarik atau Pura Bedugul yang khusus dibangun oleh para petani untuk memuja Tuhan. Keberadaan pura-pura ini sebagai ungkapan rasa syukur dan terimakasih para petani yang ditujukan untuk memuja Dewi Sri sebagai manifestasi Tuhan YME sebagai dewi kemakmuran dan kesuburan.

Tradisi serta upacara-upacara keagamaan di dalam subak terus dilakukan. Untuk melaksanakan upacara-upacara keagamaan, subak biasanya memungut iuran dari anggota subaknya. Di Bali, upacara keagamaan ini tidak pernah surut dilakukan karena merupakan faktor penting dalam sistem subak. Adapun kegiatan ritual yang biasanya dilakukan oleh subak antara lain :

Tingkat Individual: Upacara mengikuti siklus hidup (life cycle) padi. Upacara ini dilakukan sejak mulai air masuk ke petak sawah hingga padi disimpan). Ngendagi (air mulai masuk ke sawah), Ngurit (tabur benih/ pembibitan), Newasen (tanam padi), Neduh (umur padi 35 hari), Biukukung  (padi bunting), Banten Manyi (panen), dan Mantenin (padi disimpan di lumbung).

Tingkat Tempek, Subak, Subak Gede: Mendak Toya  (mencari air pertama sebelum musim tanam padi), Mebalik Sumpah (mengupacarai padi ketika berumur dua minggu), Merebu    (dilakukan menjelang panen), Ngusaba (dilakukan sehabis panen), Nangluk Merana (dilakukan upacara ketika padi mulai diserang hama dan penyakit yang dipandang membahayakan), Pakelem (dilakukan sewaktu-waktu dan dapat dilakukan bergabung bersama subak lain),  Odalan (dilakukan di berbagai pura yang disungsung subak seperti Pura Bedugul, Ulunsui).

Kelembagaan Sistem Subak

Implementasi pawongan dapat terlihat dalam kelembagaan subak. Subak merupakan perkembangan dari beberapa tempek; suatu komplek persawahan yang mendapat air irigasi dari satu sumber tertentu. Akan tetapi, setiap tempek hanya memiliki otonomi ke dalam. Subak-subak yang memperoleh air dapat bergabung menjadi Subak Gede. Subak gede pun bisa berkembang menjadi subak yang lebih besar, yaitu Subak Agung. Subak agung yang ada di Bali terdapat di Subak agung Yeh Ho di Kabupaten Tabanan dan Subak agung Gangga Luhur di Kabupaten Buleleng.

Organisasi subak berbentuk tim kerja yang berorientasi pada kecapaian tujuan yang diinginkan dalam organisasi subak tersebut. Berkaitan dengan cara sistem subak mengatur penyediaan air, maka pada suatu subak di daerah tertentu menunjuk seorang Petilik (pengawas air) yang bertugas mengawasi pendistribusian dan alokasi air di kawasan tersebut secara rutin. Di dalam subak. peranan pengurus (Pekaseh) subak menentukan keberhasilan subak yang dipimpinnya tersebut. Sebab ia yang mengatur air irigasi pada saat kondisi air yang kritis, menetapkan hari baik untuk menanam tanaman tertentu, dan merencanakan upacara tertentu.

Adapun struktur organisasi sistem subak pada umumnya mampu mengemban tugas-tugas yang telah ditetapkan. Disebutkan bahwa ketua subak (pekaseh) bertugas untuk mengkoordinasikan tugas-tugas ke luar dan ke dalam yang dibantu oleh sekretaris dan bendahara. Sedangkan kelian tempek (sub-subak) bertugas untuk mengkoordinasikan tugas-tugas ke dalam (ke wilayah masing-masing subak), dan tidak memiliki kewenangan berhubungan ke luar. Sementara peranan sedahan hanya berfungsi dalam pemungutan pajak (Pajak Bumi dan Bangunan).

Umumnya sumber daya yang biasanya diperlukan dalam subak ialah tenaga kerja dan dana. Untuk tenaga kerja, biasanya menggunakan tenaga dari anggota subak itu sendiri maupun tenaga dari luar anggota subak (seperti memakai jasa buruh untuk memanen padi). Untuk dana, umumnya dihimpun oleh subak secara internal. Adapun sumber dana antara lain: Sarin Tahun (iuran rutin) besarnya didasarkan atas luas lahan sawah,  Paturun (iuran insidental)  besarnya sesuai kebutuhan,  Kontrak bebek, sehabis panen padi, subak mengontrakkan sawahnya kepada pengembala itik, Pengoot, iuran anggota pasif, Dedosan (denda) pelanggaran awig-awig, besarnya diatur di dalam awig-awig,  Bantuan Pemerintah, dan  Sumbangan sukarela. Dana-dana tersebut digunakan untuk pemeliharaan fasilitas irigasi subak, perbaikan fasilitas irigasi, pemeliharaan pura subak, perbaikan pura subak, dan upacara keagamaan.

Untuk mengatasi masalah kekurangan air yang tidak terduga, mereka melakukannya dengan cara-cara seperti:

  • Saling pinjam meminjam air irigasi antar anggota subak dalam satu subak, atau antar subak yang sistemnya terkait.
  • Melakukan sistem pelampias, yakni kebijakan untuk memberikan tambahan air untuk lahan sawah yang berada lebih di hilir. Jumlah tambahan air ditentukan dengan kesepakatan bersama.
  • Melakukan sistem pengurangan porsi air yang harus diberikan pada suatu komplek sawah milik petani tertentu, bila sawah tersebut telah mendapatkan tirisan air dari suatu kawasan tertentu di sekitarnya.
  • Jika debit air irigasi sedang kecil, petani anggota subak tidak dibolehkan ke sawah pada malam hari, pengaturan air diserahkan kepada pengurus Subak.

 Aspek Pendistribusian Air

Perwujudan palemahan dalam sistem subak dapat terlihat dalam aspek pendistribusian air ialah sebagai berikut:

–        Bendung (empelan), yang memiliki fungsi sebagai lokasi tempat masuknya air yang akan menuju areal subak. Lokasi bendung pada dasarnya ditempatkan pada kawasan tikungan sungai, pada kawasan sungai yang lokasinya paling dekat dengan hamparan sawah petani yang bersangkutan. Sementara itu, pada setiap lokasi bangunan bendung dibangun sebuah pura yang disebut Pura Empelan, yang dimanfaatkan sebagai tempat pelaksanaan upacara mendak toya/ magpag toya. Penanggungjawab bendung adalah kelian subak bersama-sama dengan seluruh anggota subak.

–        Trowongan (aungan), memiliki fungsi sebagai tempat mengalirnya air irigasi menuju ke saluran tersier. Trowongan akan dibangun oleh petani jika mereka gagal memanfaatkan saluran irigasi yang terbuka. Dalam proses pembuatan trowongan para ahli bangunan (undagi) akan berusaha memilih lintasan trowongan pada lahan yang terdiri dari batu, batu pada, atau tanah yang cukup keras untuk menyangga tanah yang ada di atas bangunan. Adapun penanggungjawab bendung adalah kelian subak bersama-sama dengan seluruh anggota subak.

–        Saluran irigasi (telabah), memiliki fungsi sebagai tempat mengalirnya air irigasi yag akan menuju ke petak sawah petani. Penanggungjawabnya adalah kelian tempek bersama-sama petani yang berkepentingan dengan saluran yang bersangkutan.

–        Bangunan bagi (tembuku) pada sistem subak dibangun dengan konsep proporsional dari bangunan-bagi hulu hingga hilir. Unit ukuran yang digunakan adalah tektekTektek merupakan sistem bagi habis antara jumlah air yang masuk ke subak yang bersangkutan dengan jumlah areal sawah yang ada di subak bersangkutan. Bangunan-bagi pada jaringan tersier dibuat tidak permanen agar dapat memudahkan dalam proses pinjam air irigasi.

Revolusi Hijau dan Sistem Subak

Pertanian ‘modern’ yang didukung  kucuran utang dari lembaga keuangan international seperti Bank Pembangunan Asia (ADB), atau lebih dikenal sebagai Revolusi hijau di tahun 70-an di Indonesia memang berhasil menghantarkan Indonesia dalam swasembada beras selama lima tahun (1984-1989). Namun, dengan 4 pilar revolusi hijau (sistem irigasi,penggunaan pupuk dan pestisida, serta varietas unggul),  telah menyebabkan perubahan pada sistem irigasi tradisional, dengan adanya varietas padi yang baru dan metode yang baru, para petani harus menanam padi sesering mungkin, dengan mengabaikan kebutuhan petani lainnya. Sejak akhir tahun 1970-an proyek-proyek jaringan tersier yang dilaksanakan Departemen PU pada sistem subak di Bali, dengan mengubah sistem bangunan bagi (tembuku) dari sistem numbak menjadi sistem ngerirun telah menimbulkan konflik, karena perubahan itu tidak serasi dengan sosio-kultural masyarakat setempat.

Metode yang baru pada revolusi hijau ini pada awalnya menghasilkan hasil panen yang melimpah, tetapi kemudian diikuti dengan kendala-kendala seperti kekurangan air, hama dan polusi akibat pestisida baik di tanah maupun di air. Kerusakan terus berlanjut sampai sekarang, bahkan ADB sendiri mengakui di tahun 1990 “kerusakan subak adalah buah dari pilihan teknologi yang salah yang didukung ADB”. Sampai sekarang, hampir 30 tahun revolusi hijau, Indonesia tidak pernah mencapai swasembada beras lagi, di mana untuk memenuhi kebutuhan beras dalam negeri dilakukan melalui impor beras.

Masalah lainnya adalah pengurangan luas areal sawah di Bali juga terjadi walau jumlah subak tidak menurun. Areal sawah yang beralih fungsi menjadi hotel, restoran atau perumahan menjadi pilihan karena dianggap lebih menguntungkan secara ekonomi. Namun, hal ini tentunya mengancam keberadaan sistem irigasi di Bali. Juga menyusutnya luasan hutan di Bali yang tinggal 22 persen (132 ribu hektar) sebagai penjaga sumber air subak. Dari 400 sungai sumber air Subak, 260 diantaranya mengering. Irigasi 82.000 hektar sawah subak terancam.

Penghargaan UNESCO

Karenanya penghargaan dari UNESCO (Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB)  untuk kawasan Subak seluas 19.500 hektar yang meliputi lima kabupaten: Buleleng, Tabanan, Gianyar, Badung, dan Bangli, termasuk Danau Batur dan Pura Taman Ayun seharusnya dapat dimanfaatkan sebagai titik balik untuk revitalisasi subak disesuaikan dengan kondisi terkini.

Konvensi UNESCO 1972 tentang Warisan Dunia terinspirasi dari penyelamatan monument Abu Simbel dan candi lainnya di Nubia yang akan terendam banjir Sungai Nil, ketika bendungan Aswan dibangun. Aksi penyelamatan candi pada 1960 menarik perhatian 50 negara dan terkumpul donasi 80 juta dollar AS. Kini, dengan anggota 195 negara, UNESCO telah menetapkan 962 warisan dunia di 157 negara.

Juni 2012, UNESCO mengumumkan Subak sebagai budaya warisan dunia, yang menempatkan sebagai Warisan Dunia ke-8 di Indonesia setelah TN Komodo, TN Ujung Kulon, Candi Borobudur, Situs Sangiran, TN Lorentz, Hutan hujan tropis Sumatera yang mencakup TN Gunung Leuser, TN Kerinci Seblat, TN. Bukit Barisan.

Selain itu, antisipasi yang harus dilakukan untuk mampu melestarikan sistem subak di Bali adalah dengan melakukan pendekatan ekonomi. Seperti memperkuat lembaga ekonomi, lembaga perkreditan subak, dan lain-lain yang ada pada sistem subak.  Kemudian,  meringankan beban ekonomi anggota subak, dan berusaha meningkatkan semangat kerja para pekaseh untuk mengurus pengelolaan sistem irigasi. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan honor bagi para pekaseh. Dalam kaitan dengan permasalahan ekonomi ini, tentu saja kemauan politik dan uluran tangan dari pihak Pemerintah daerah Bali sangat penting dalam menjaga keberlangsungan sistem subak di Bali. Sejarah subak di Bali sejak ribuan tahun lalu, telah terbukti berkelanjutan (sustainable) dalam perkembangan dan keberlangsungan subak untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Bali masih memiliki potensi besar dalam bidang pertanian, hal itu dilihat dari posisi geografis dengan empat danau besar yang mampu memberikan pembagian air secara merata. Tiga buah danau yang meliputi Danau Beratan, Buyan, dan Tamblingan berfungsi sebagai sumber air bagi Bali tengah, barat, dan selatan. Sementara Danau Batur di Bangli sebagai sumber air di Bali timur.

 

REFERENSI

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Scroll to Top