SEKOLAH KEHIDUPAN BERNAMA WALHI

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) adalah organisasi lingkungan terbesar di Indonesia dengan anggota organisasi mencapai 500, dan anggota Individu mencapai 200. Anggota ini tersebar di seluruh Indonesia yang kemudian bersepakat mendirikan kantor-kantor Walhi di 28 Propinsi.Berdiri sejak tahun 1980, maka usia WALHI di tahun 2026 ini genap 46 tahun.

Artinya setengah dari usia negara Republik Indonesia ini diwarnai oleh WALHI, dalam usianya yang hampir mencapai lima dekade ini meneguhkanWALHI mampu bertahan ditengah berbagai pergolakan sosial dan politik, serta ditengah ancaman krisis lingkungan dan krisis sosial. WALHI terus menghasilkan tenaga-tenaga muda yang berwawasan lingkungan dan memiliki pengalaman di lapangan yang semuanya bekerja dalam satu visi: Mempertahankan fungsi lingkungan, untuk dunia yang lebih baik. Mereka memiliki pengalaman yang berbasis dari fakta dilapangan. Ratusan artikel, kertas posisi, Analisa hukum, ataupun buku telah dihasilkan WALHI. Namun, opini pribadi, pengalaman pribadi para aktivis WALHI belumlah banyak dihasilkan, kalau tidak bisa dibilang tidak ada sama sekali.

Berawal dari pemikiran seperti itulah, maka saya mengajak teman-teman yang pernah bersinggungan dengan WALHI untuk menulis. Menuliskan pengalaman, pengamatan maupun opini tentang isu lingkungan dari kaca mata diri. Ajakan itu saya lempar dalam sebuah grup ‘WhatsApp” (WA) para alumni WALHI, yaitu mereka yang pernah bekerja sebagai staf maupun fungsionaris WALHI. Grup WA ini terbentuk secara informal, di luar struktur organisasi WALHI,sekedar mengikat silaturahmi diantara para alumni, yang tentu saja tidak bisa dianggap mewakili seluruh alumni WALHI yang tersebar di seantero negeri. 

““wadah komunikasi dan silaturahmi mereka yang pernah bekerja di WALHI, baik WALHI Nasional maupun WALHI Daerah” demikian uraian mengenai tujuan hadirnya grup WA tersebut. Dengan 172 anggota, layaknya grup WA, kadang sunyi tidak ada yang berkirim kabar, kadang ramai dengan topik beragam. Menjelang Pertemuan Nasional lingkungan Hidup (PNLH) ke-14, Desember 2025, Grup WA ini selalu ramai. Maklum PNLH adalah ajang pertemuan dan pengambil Keputusan tertinggi dalam tubuh WALHI, semacam kongres. ajang pertanggung jawaban fungsionaris nasional WALHI, pemilihan fungsionaris berikutnya, dan penentuan arah kerja WALHI ke depan.

Ajakan untuk menulis ternyata cukup mendapat tanggapan yang antusias dari teman-teman Alumni WALHI. Bahkan ada yang berkontribusi sampai dua tulisan. Total ada 28 Penulis, dengan total 32 tulisannya. Yang bersinggungan dengan WALHI dari rentang tahun 1980-an ketika awal WALHI berdiri, sampai menjelang WALHI berumur 45 tahun. Dari pengalaman advokasi di wilayah Sulawesi, Jawa Barat sampai Sumatera. Dari yang santai sampai yang serius, lengkap dengan Foto, Peta dan Daftar Pustaka. Gaya Bahasa juga beragam, karena menulis adalah sebuah bentuk ekspresi yang tidak boleh dikekang. 

Beragam adalah sebuah keniscayaan. 

Saya mengucapkan terima kasih kepada para penulis yang antusias berbagi pandangan dan pengalamannya, ucapan terima kasih juga ditujukan ke Ahsan Jamet Hamidi yang penuh semangat, selain turut menjadi penulis, juga dengan sabar mendorong teman-teman untuk mau menulis. Selanjutnya kepada Hening Parlan yang dengan cepat membantu melakukan penyuntingan baik alur tulisan maupun Bahasa. 

Selamat menikmati, sejumput dari kami… Salam Adil dan Lestari ! 

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

National Slum Upgrading Project (NSUP): Proyek Mengusir Orang Miskin di Perkotaan (Studi Kasus di Sulawesi Selatan)

KOTAKU adalah proyek pemerintah pusat yang tertera di dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. Proyek yang juga dikenal dengan sebutan National Slum Upgrading Project ini menarget 269 Kota di 34 provinsi, termasuk Kota Makassar. Proyek ini diketahui dibiayai oleh Bank Dunia dan AIIB melalui skema utang dan
saat ini tengah berjalan di Kota Makassar.

Komentar dan Rekomendasi atas Dokumen Program/Rencana Investasi Kehutanan

Kami adalah jaringan masyarakat sipil yang mempunyai perhatian pada isu keadilan penguasaan sumber daya alam di Indonesia dan kelestarian lingkungan. Berdasarkan pengalaman kami dalam bekerja dengan komunitas yang menggantungkan hidupnya pada kekayaan alam warisan leluhur, ada banyak persoalan agraria dan sumber daya alam yang dialami komunitas-komunitas tersebut. Kami juga telah melihat ada banyak masalah dalam pengurusan sumber daya alam oleh pemerintah. Perhatian dan pengalaman tersebut menjadi landasan bagi kami untuk memeriksa setiap rencana yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam di republik ini, termasuk di sektor kehutanan.

Utang Baru dari ADB

Meski proposal belum dibuat, Bank Pembangunan Asia (ADB) menyatakan siap menambah pinjaman untuk Indonesia. Berdasarkan strategi dan program Bank Pembangunan Asia 2006-2009 untuk Indonesia, ada tiga pinjaman program dan lima pinjaman proyek yang akan diproses tahun ini. Nilai pinjaman itu US$ 1 miliar. Namun, menurut Departemen Keuangan, utang yang diajukan bukan termasuk pinjaman baru. Utang itu adalah bagian dari pinjaman US$ 1,65 miliar yang dialokasikan untuk menutup defisit APBN tahun 2008