A Day of Appreciation: Pelajaran dari Gerakan Feminisme Periode Orde Baru hingga Reformasi

A-Day-of-Appreciation-Pelajaran-dari-Gerakan-Feminisme

www.letss-talk.com

Concept Note

Merayakan Hari Perempuan Internasional

A Day of Appreciation: Pelajaran dari Gerakan Feminisme

Periode Orde Baru hingga Reformasi

Latar Belakang

Di bawah rezim Orde Baru yang otoritarian dan opresif, gerakan feminisme di Indonesia justru mampu menujukkan berbagai kekuatan sebagai gerakan sosial-politik kritis dan militan. Di bawah stigma perempuan pemberontak bahkan subversif, diasosiasikan dengan Gerwani, elemen gerakan perempuan saat itu bisa menghadirkan berbagai upaya dan strategi kreatif. Di tengah negara yang otoriter dan superpower, gerakan perempuan sanggup melakukan berbagai negosiasi untuk, satu sisi, membangun cara pandang dan sikap kritis terhadap struktur opresif dan struktur ketidakadilan negara Orde Baru, dan di sisi lain, memikirkan keselamatan diri dan kesinambungan gerakan di tengah situasi politik yang sama sekali tidak memberi ruang kebebasan. Meski “kecil” dan tidak sepopuler seperti saat ini, gerakan feminisme pada masa Orde Baru diisi para pionir dan figur dengan kedalaman pikiran untuk mengaitkan setiap kegiatan yang dilakukan dengan kritik atas negara otoriter di bawah rezim Orde Baru, yang di antaranya menjadi sistem kekuasaan yang solid dan tangguh tidak terlepas dari aplikasi politik gender.

Kritik atas dan perlawanan terhadap politik gender Orde Baru dengan ibuisme dan bapakisme negara yang berinterseksi dengan birokratisme dan militerisme memang menjadi paradigma fundamental gerakan feminisme masa Orde Baru hingga reformasi. Gerakan feminisme waktu itu memahami konsolidasi kekuasaan Orde Baru tidak terlepas dari strategi politik rezim menundukkan kritisisme perempuan dan memformalkan subordinasi gender. Negara menciptakan standar ideal kewarganegaraan berdasarkan gender. Profil perempuan yang baik dalam masyarakat kita adalah ibu yang selalu patuh pada suami, bertanggungjawab pada semua urusan rumah tangga, menjadi ‘pendidik’ bagi anak-anak dalam keluarga, tidak terlibat dalam kegiatan politik dan public, dan sikap politik paling ideal adalah “ikut suami”; mereka itulah perempuan-perempuan pilar negara. Sementara laki-laki, untuk bisa disebut warga negara dengan maskulinitas ideal, haruslah seorang suami yang selalu powerful, punya anak, menjadi kepala keluarga, giat mencari nafkah, dan jika bukan “militer” adalah seorang birokrat atau priyayi. Rezim saat itu melakukan kooptasi sangat kuat dalam melakukan pendefinisian identitas gender ideal oleh negara. Saking kuatnya kooptasi, kita hanya mengenal organisasi-organisasi perempuan “tradisional” seperti Dharma Wanita dan organisasi persatuan isteri lainnya, dan sama sekali tidak mengenal organisasi perempuan feminis seperti Kalynamitra, Yasanti, dan lain-lain. Hal Ini mengonfirmasi pikiran Ben Anderson dalam karya monumentalnya, Imagined Communities, bahwa, dalam konsep negara “modern,” gender menjadi kategori kewarganegaraan, menjadi penentu nasionalisme. Yang rumit, negara ikut campur menentukan dan mematenkan norma gender tertentu yang seharunya bisa dipilih bebas, merdeka dan fluid.

Kemampuan analitis para feminis saat itu dalam memahami politik gender sebagai bagian dari konsolidasi kekuasaan otoritarian Orde Baru menjadi fondasi krusial dalam membangun gerakan sipil yang kritis, militan, dan kreatif. Setiap kegiatan memiliki orientasi bagi pembentukan sikap kritis terhadap struktur negara otoriter dan represif ini. Dari training gender hingga pendampingan kasus bagi perempuan korban kekerasan memiliki tujuan membangun pemahaman dan sikap kritis tentang struktur sosial-politik yang tidak adil yang dijalankan negara saat itu. Kritik atas gender politik Orde Baru ini menjadi sumbangan sangat penting gerakan feminisme periode itu.

Gerakan feminisme masa Orde Baru juga menjadi pionir dalam transfer pengetahuan-penegetahuan feminisme (feminist scholarship) yang sedang berkembang pesat pada saat itu. Interaksi aktivisme dan intelektualisme figur-figur feminisme kita waktu itu dengan para feminis global menjadi medium penting transfer pengetahuan-pengetahuan feminisme tersebut. Akses terhadap pengetahuan dan informasi feminisme berpengaruh pada pengembangan gagasan-gagasan dalam gerakan feminisme saat itu. Revolusi paradigmatik tentang menjadi ibu yang progresif, militan dan radikal selain diinspirasi gerakan perempuan akar rumput yang diorganisir Gerwani juga dipengaruhi pengetahuan dan informasi feminisme dari berbagai negara. Kritik atas kebijakan Keluarga Berencana yang menekankan penggunaan kontrasepsi pada perempuan menjadi salah satu contoh transfer pengetahuan feminisme pada aktivisme gerakan feminisme pada masa Orde Baru. Para feminis saat itu juga terlibat intensif dalam melakukan kritik terhadap paradigma developmentalisme yang menegaskan feminization of poverty dan menciptakan pemiskinan perempuan. Demikian, para feminis waktu itu menyediakan pengalaman penting bagaimana menggunakan pengetahuan feminisme untuk konsolidasi gerakan. Mereka adalah buku hidup yang menyediakan pelajaran dan informasi pengalaman membangun gerakan perlawanan dan perubahan.

Pada akhirnya, satu hal yang menjadi bukti nyata “kuatnya” gerakan feminisme kita pada masa Orde Baru adalah saat ia menjadi salah satu aktor utama gerakan reformasi. Keterlibatan gerakan feminisme dalam gerakan reformasi tidak terlepas dari pengalaman panjang membangun gerakan kritis dan gerakan perlawanan terhadap rejim represif Orde Baru. Tidak sampai hanya melakukan perubahan kekuasaan atau terlibat dalam transisi kekuasaan, gerakan feminisme juga berupaya menginstitusionalisasi gagasan feminisme ke dalam kehidupan struktural bernegara. Dimulai dengan pembentukan Komnas Perempuan, usulan affirmative action, UU Penghapusan KDRT, hingga gerakan kritis terhadap totalitarianisme baru –dalam bentuk di antaranya pengaturan pornografi, kontrol atas tubuh dan seksualitas, kriminalisasi LGBT, dan lain-lain.

Tidak bisa disangkal, status keadilan gender dan kemerdekaan seksual (sexual freedom) yang kita ‘nikmati’ saat ini tidak terlepas dari sumbangan gerakan feminisme di masa Orde Baru. Berkembangnya gerakan perempuan dan gerakan feminisme saat ini juga tidak terlepas dari kontribusi besar gerakan feminisme periode Orde Baru ini. Sayangnya, “generasi baru” gerakan feminisme saat ini seperti “menghilangkan” fase sejarah penting ini dan lebih senang me-refer gemar merujuk periode feminisme masa RA Kartini dan semasanya saat membicarakan perkembangan gerakan feminisme dan gerakan perempuan di negara kita.

Dalam rangka perayaan Hari Perempuan Internasional, LETSS Talk membuat acara “A Day of Appreciation: Pelajaran dari Gerakan Feminisme Periode Orde Baru dan Reformasi.”

Tujuan

Tujuan utama kegiatan adalah mengenal, memahami, dan mengambil pelajaran dari pengalaman gerakan perempuan dan gerakan feminisme di bawah situasi sosial-politik Orde Baru dan masa Reformasi dan menjadikan kegiatan ini sebagai salah satu media memberi apresiasi pada kontribusi. Dengan memahami berbagai sumbangan gerakan feminisme saat itu dalam perubahan sosial-politik di Indonesia, diharapkan akan menginsipirasi

Lebih rinci, tujuan kegiatan ini adalah

  1. Mengenal dan memahami peta persoalan gerakan perempuan dan gerakan feminisme periode Orde Baru hingga gerakan reformasi.
  2. Mengenal pikiran dan sumbangan tokoh gerakan perempuan dan gerakan feminisme periode Orde Baru hingga gerakan reformasi.
  3. Menguatkan keterkaitan dan sinergi sejarah antara gerakan feminisme periode Orde Baru dengan gerakan feminisme saat ini sebagai bagian dari konsolidasi gerakan feminisme.

Format Acara

Acara ini akan berlangsung melalui Zoom. Agar dapat diakses lebih banyak audiens, acara ini juga akan live-streaming melalui Facebook Page LETSS Talk. Video rekaman acara ini akan diunggah di YouTube Channel LETSS Talk.

Dalam acara ini, akan hadir beberapa tokoh gerakan feminisme periode Orde Baru hingga gerakan reformasi. Para tokoh itu akan menjadi figure representasi dari peta persoalan atau isu gerakan feminisme saat itu. Dengan dipandu seorang moderator, para figur tersebut akan diminta berbagi informasi selama maksimal 15 menit tentang isu-isu penting gerakan feminisme saat itu dan bagaimana gerakan feminisme membangun strategi gerakan dalam men-tackle isu-isu tersebut. Beberapa poin yang akan di-share meliputi: isu penting apa yang berkembang saat itu? Mengapa isu tersebut dipandang sebagai isu penting oleh gerakan feminisme waktu itu? Strategi apa yang dibangun gerakan feminisme untuk meng-handle isu-isu tersebut? Apa saja tantangan mengangkat dan “memperjuangkan” isu tersebut? Bagaimana strategi tersebut berkontribusi pada perubahan sosial-politik?

Ada 14 isu pokok dengan 14 narasumber yang akan sharing informasi dan refleksi. Forum akan dibagi dalam 2 sesi, masing-masing menghadirkan 7 narasumber sehingga akan cukup waktu untuk tanya jawab dan berdiskusi.

Setelah sesi sharing ini, akan tersedia forum interaktif baik dengan mengundang pertanyaan dari audiens atau komentar dari masing-masing figur yang hadir.

Selama sesi sharing, audiens diperkenankan menyampaikan pertanyaan, tanggapan, dan opini melalui chat yang tersedia di Zoom dan melalui kolom komentar di FB Page LETSS Talk.

Di akhir sesi, moderator akan memandu diskusi/tanya-jawab, menyampaikan poin-poin penting yang berkembang dalam forum ini, membuat kesimpulan, dan menutup acara.

Acara ini akan dilengkapi Juru Bahasa Isyarat (JBI) sehingga bisa diakses oleh difabel tuli.

Isu Pokok dan Narasumber

Berikut ini beberapa isu pokok yang berkembang dan narasumber yang diundang untuk menyampaikan refleksinya terhadap isu-isu tersebut

SESI I

  1. Perlawanan atas Politik Gender Orde Baru: Framework Gerakan (Ita Fatia Nadia)
  2. Training Gender: Dari Sensitivitas Gender ke Kesadaran Politik Feminis (Myra Diarsi)
  3. Politik Kesehatan Reproduksi (Ninuk Widyantoro)
  4. Politik Pendampingan Perempuan Korban Kekerasan (Elli Nurhayati)
  5. Reformasi Hukum: Hukum yang Sensitif Gender dan Pro-Korban (Rita Serena Kalibonso)
  6. Perempuan, Konflik, dan Perdamaian (Suraiya Kamaruzzaman)
  7. Gerakan Perempuan Lokal/Adat (Arimbi Heroepoetri)

SESI II

  • Kritik Developmentalisme: Tentang Pemiskinan Perempuan (Ratna Saptari)
  • Pengorganisasian Perempuan: Konsolidasi Gerakan Politik (Nursyahbani Katjasungkana)
  • Suara Ibu Peduli, Suara Ibu Politik (Karlina Leksono)
  • Gerakan Perempuan, Reformasi dan Demokratisasi (Sita Aripurnami)
  • Tantangan Konservatisme, Tradisionalisme dan Fundamentalisme Agama (Lies Marcoes Natsir/Islam)
  • Tantangan Konservatisme, Tradisionalisme dan Fundamentalisme Agama (Sylvana Apituley/Kristen)
  • Keragaman Seksual dan Gender: Menentang Heternormativisme Negara (Dede Oetomo)

Audiens

Acara ini terbuka untuk umum dengan target utama audiens adalah “generasi baru” dalam gerakan feminisme, yaitu mereka yang terlibat dalam berbagai aktivitas gerakan feminisme saat ini.

Waktu

Hari/Tanggal  : Sabtu, 6 Maret 2021

Jam                 : 09:30:00-12.00 WIB (Sesi I)

                          13.00-15.30 WIB (Sesi II)

Tentang LETSS Talk

Terlampir

Pernyataan Volunterisme

LETSS Talk merupakan forum yang dijalankan atas dasar kesukarelawanan atau volunteer. Semua kegiatan yang dilakukan LETSS Talk merupakan aktivitas pro bono. LETSS Talk tidak bisa menyediakan kompensasi finansial atau honorarium bagi narasumber atau partisipan lain yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan LETSS Talk.

Kontak

Untuk informasi dan pertanyaan terkait acara ini, silahkan kontak:

Farid Muttaqin            : +1 6077276170) (WA)

Diah Irawaty               : +1 6077682247 (WA)

Renvi Liasari              : +62 81270930680 (WA)

Email                          : [email protected]

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest